Daripada menjadikan persoalan macet sebagai ajang salah menyalahkan, di zaman presiden Jokowi terlihat pemerintah bersama swasta memikirkan solusi bersama. Untuk kota Palembang, pemerintah dan swasta nyaris berbarengan menawarkan solusi penguraian kemacetan melalui penggunaan transportasi publik. Pemerintah melalui Project Light Rail Transit / LRT, dan Swasta melalui Transportasi Online.

Palembang mengembangkan LRT untuk pelayanan transportasi dalam kota, meluncur 23 kilometer dari utara ke selatan kota Palembang, dengan rute Bandara ke Jakabaring. Sepanjang 23 kilometer itu setiap dua kilometer akan ada 1 stasiun, sehingga total ada 13 stasiun dilengkapi dengan 1 depo.

Di sektor swasta, secara alami tumbuh industri Transportasi Online. Transportasi Online adalah trend baru yang berhasil masuk merubah budaya masyarakat kita. Transportasi Online sekarang sudah menjadi bagian dari gaya hidup dan kebutuhan. Tahun lalu, yang kemana mana naik mobil MPV atau SUV masih adalah masyarakat menengah keatas. Namun tahun ini sudah berbeda, masyarakat kelas bawah pun bisa memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati kemana – mana naik “kendaraan pribadi”. Kehadiran Transportasi Online dengan brand Gocar misalnya, membuat semua menjadi berbeda jauh dalam kurun waktu setahun terakhir.

Kehadiran LRT sekitar setahun lagi, sementara Transportasi Online sudah ada sekarang. Karena keduanya adalah urusan mengantar orang ke tujuan, dengan karakter produk yang saling substitutif / saling menggantikan, jadi pertanyaan usil di benak saya, akankah Transportasi Online memakan kue pasar LRT, sehingga jumlah penumpang LRT tidak maksimal ? Bila terjadi yang sebaliknya dimana LRT memakan pasar transportasi online, maka baik-baik saja, dan malah bagus, jumlah kendaraan dijalan akan turun sesuai tujuan LRT dibangun.

Andai benar Transportasi Online berpengaruh terhadap jumlah penumpang LRT, bakalan lucu dan menghibur membayangkan bisnis dengan modal 11 Triliun hasil lobian kelas wahid, ‘dihajar babak belur’ oleh bisnis Aplikasi Online yang cuma ada kantor administrasi dan beberapa unit mobil sewaan untuk operasional sehari hari.

Mari kita coba bandingkan kekurangan dan kelebihan LRT terhadap Transportasi Online dari berbagai sudut untuk menjawab pertanyaan usil diatas “akankah Transportasi Online memakan kue pasar LRT, sehingga jumlah penumpang LRT tidak maksimal..?”

Dari sisi tarif. Di media disebutkan tarif LRT berkisar 15-20 ribu dari dan ke semua rute, sementara tarif Transportasi Online berkisar 3.800 Rupiah per Kilometer. Untuk jarak dekat Transportasi Online jelas lebih murah dibanding LRT. Dibawah 3 Kilometer hanya kena tarif batas bawah senilai sepuluh ribu Rupiah saja. Namun untuk jarak jauh, LRT menang, lebih murah dibanding Transportasi Online. Kalo ditest di aplikasi, dari Bandara ke OPI Mall berjarak 23 kilometer, jarak segitu penumpang dikenakan 71 ribu bila membayar dengan dengan e-money, dan 86 ribu secara cash. Namun, LRT memiliki kelemahan lain, penumpang dihitung perkepala, sementara Transportasi Online bisa 5 orang dalam satu kendaraan dengan 1 tarif saja. So, untuk pasar jalan berombongan, LRT bukan pilihan. Soal tarif ini, bila saja tarif LRT dapat ditekan berkisar antara 5  – 10 ribu Rupiah saja per lembar tiket, calon penumpang pasti benar-benar akan mempertimbangkan secara serius memilih LRT. Mengapa ? karena Transportasi Online memiliki tarif batas bawah (10 ribu Rupiah), sehingga untuk jarak pendek ataupun jauh, LRT akan sulit di bandingkan.

Dari sisi kemudahan, LRT mesti dihampiri, sementara Transportasi Online bisa menghampiri. LRT hanya menghantar penumpang sampai di stasiun, sementara Transportasi Online bisa menghantar sampai didepan pagar rumah. Bila data penelitian yang menyebut orang Indonesia paling malas jalan kaki itu benar, LRT kehilangan pesonanya. Anda diturunkan di stasiun, mesti jalan ratusan meter siang – siang di bawah terik matahari yang panas menyengat.

Dari sisi waktu pemesanan, Transportasi Online dapat dipesan kapanpun, sementara penumpang LRT mesti mengikuti jadwal tiba dan berangkat yang sudah dibuat. Bagi mereka yang butuh fleksibilitas waktu, mengikuti jadwal transportasi publik bukan pilihan. Keunggulan lain, Transportasi Online bisa menunggu penumpangnya, sementara LRT akan meninggalkan penumpang bila terlambat tiba di stasiun.

Dari sisi keamanan dan kenyamanan, baik LRT dan Transportasi Online kemungkinan akan berada dilevel yang sama. Hanya beda di-kemungkinan sumber gangguan. Pengguna Transportasi Online bisa bergesekan dengan Driver, sementara penumpang LRT kemungkinan bergesekan dengan sesama penumpang.

Dari sisi pengalaman, LRT menawarkan pengalaman baru melihat kota dari atas ketinggian 7 meter diatas aspal. LRT juga bisa menjadi sarana wisata express bagi tamu dan turis yang datang ke Palembang. Salah satu gerbong bisa saja dibuat menjadi gerbong wisata. Di gerbong khusus ini penumpang diberikan narasi sepanjang perjalanan, menjelaskan sejarah Palembang, termasuk sejarah icon – icon bersejarah yang tepat dilalui oleh LRT seperti Masjid Agung, Bundaran Air Mancur, Jembatan Ampera, dan Monpera. Untuk soal satu ini, Transportasi Online kalah pesona.

LRT Palembang

Dari sisi ketepatan waktu, karena LRT menggunakan jalur khusus yang bersih dari gangguan, dipastikan LRT akan lebih tepat waktu. Pengguna Transportasi Online mesti berhadapan dengan kemacetan khas kota Palembang. Seperti yang sudah disampaikan sebelumnya, setiap 2 kilometer akan ada satu stasiun LRT. Jika durasi satu stasiun ke stasiun lainnya adalah 5 menit, untuk mencapai jarak 8 Kilometer atau 4 stasiun kedepan hanya membutuhkan waktu 20 menit. Bagi Transportasi Online, jarak 8 Kilometer bisa berarti 30 menit, bisa berarti 1 jam, bisa berarti 2 jam. Sulit diprediksi dengan kondisi jalan di Palembang  yang semakin macet dari hari kehari.

Dari sisi ketersediaan dan promosi, direncanakan LRT beroperasi resmi setahun kedepan, sementara Transportasi Online sudah ada sekarang. Waktu setahun di-era seperti saat ini dimana perkembangan bisnis Online sangat massive adalah jeda waktu yang sangat lama yang membuat semua bisa terjadi. Dalam setahun kedepan, Transportasi Online roda empat akan semakin bertambah lebih banyak lagi, bahkan bisa bertambah hingga sepuluh ribu unit lagi.  Dalam industri transportasi berbasis online, penetrasi ke pasar baru bukan masalah besar karena tidak perlu membangun infrastruktur. Pelaku bisnis hanya perlu menyiapkan orang yang akan menjalankan system administrasi yang sudah dibangun dan membentuk jaringan driver. Dengan persaingan yang semakin keras, sangat mungkin pelaku bisnis Transportasi Online menawarkan berbagai promo menarik untuk mendapatkan pasar baru atau sekadar mempertahankan yang sudah ada. LRT adalah bisnis milik pemerintah sehingga tidak akan terlalu fleksibel membuat berbagai program pemasaran untuk memikat calon pengguna.

Menarik membayangkan bagaimana pengguna akan dihadapkan pada 2 pilihan yang tidak setara, tapi dengan hasil akhir sama – sama membawa ke tujuan. Dari sisi beban psikologis, LRT lebih berat karena membawa tanggung jawab senilai 11 Triliun untuk dikembalikan modalnya, termasuk keuntungan bagi pemilik dana. Akan sungguh jadi masalah bila kehadiran Transportasi Online ini merusak semua asumsi dan perhitungan bisnis yang sudah dibuat oleh para analis bisnis LRT. Sudah banyak contoh kehadiran Transportasi Online mengganggu status quo pemain lama di industri. Contoh saja bisnis taxy konvensional yang babak belur jatuh omzetnya karena penumpang beralih ke Transportasi Online, sampai – sampai harus mengajukan ‘merger’ dengan aplikasi Transportasi Online pesaingnya. Jangan terlalu percaya diri dengan bilang LRT tidak akan terkena imbas negatif kehadiran Transportasi Online. Model bisnis LRT tergolong konvensional, dan di-era Online, pasar bisnis konvensional cenderung ‘dimangsa’ bisnis online.

Hal paling positif yang bisa dilakukan LRT saat ini adalah memilih ceruk pasar yang tepat, menentukan siapa pasar utama yang akan dilayani sehingga tidak perlu bersaing secara konfrontatif dengan Transportasi Online memperebutkan pasar yang sama. Kampanye dan tag line dibuat secara khusus misal kepada mereka yang menginginkan ketepatan waktu, alergi dengan macet, memiliki jarak tempuh jauh, dan ingin mengalami pengalaman yang baru. Dan akan lebih indah lagi bila antar kedua moda kreasi sesama anak negeri malah bisa saling bersinergi dan menguatkan, kehadiran yang satu menunjang dan meningkatkan performa yang lainnya. Silakan dipikirkan ide membangun sinerginya.

Catatan : Artikel ini telah terbit di Majalah Nasional Property & Bank