Menteri keuangan Sri Mulyani mengumumkan Indonesia masuk ke dalam resesi, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III berada di kisaran minus 1% sampai 2,9%.

Pengumuman ini sebagai warning untuk dunia bisnis. Sebelum pengumuman pun beberapa merek besar sudah mengasong produk nya di jalanan.

Lepas pengumuman, impact nya bakalan lebih serius, terutama untuk bisnis yang boros dan tidak efisien, juga yang bongsor.

Pelaku bisnis menengah dan besar, kelimpungan ketemu pandemi, soalnya mereka butuh penjualan skala besar agar mengimbangi biaya mereka.

Di masa pandemi omset mereka pasti turun, sehingga Cost vs Omset gak imbang, besaran Cost daripada Omset.

Sementara pelaku bisnis skala mikro dan kecil, mereka sangat efisien. Mereka lah bos, mereka lah manager, mereka lah pelayan, mereka lah koki, mereka lah kasir, mereka lah tukang cuci, dan mereka juga lah penyaji makanan ke tamu.

Bisnis – bisnis skala mikro dan kecil ini nyaris tidak terdampak pandemi. Skala bisnis mereka yang kecil membuat kebutuhan omzet tidak perlu besar, sekadar 30-50 transaksi per hari pun sudah bisa hidup.

Dari 3 kali krisis, tahun 1998 – 2008 – 2020, kunci ketahanan ekonomi bangsa kita justru ada pada UMKM, utamanya bisnis mikro dan kecil.

Kondisi tidak terurus dan terjangkau oleh negara membuat banyak, banyak sekali masyarakat yang harus berjuang sendiri untuk hidup.

Survival mode mereka justru sudah On sejak lama, bukan baru hari ini saja. Hari ini bagi mereka sama seperti hari – hari sebelumnya yang harus di hadapi dengan ketegaran dan usaha nyata. Gak gerak gak makan anak istri di rumah.

Negara kita vs negara lain yang rapi administrasi nya itu ibarat tanah penuh lalang vs kebun yang rapi.

Tanah lalang dan rerumputan liar, begitu gak di rawat ya tumbuh saja terus. Gak rapi dan gak indah, tapi hidup.

Tapi taman yang indah, yang semua teratur, begitu ada masalah, telat siram, pupuk kurang, tanaman nya mati semua.

Sektor Mikro dan Kecil ini kuat dan tangguh persis seperti ilalang dan rumput liar, bisa tumbuh di manapun, tidak cerewet, minim perawatan.

Ketahanan ekonomi bangsa ini justru terbangun oleh sektor yang tidak diurus dan di andalkan. Benar – benar Blessing In Disguise, berkah terselubung.

Di kita itu mudah sekali masyarakat buat bisnis mikro dan kecil kecilan, gak sesusah bisnis menengah dan besar yang ini itu urus izin dulu, susah pula. Belum lagi razia nya, hmm, gak tahan.

Tapi di mikro dan usaha kecil, petugas pemerintahan males razia BPOM, SNI, P-IRT, Amdal, Izin Lalin, ataupun tanyain izin Dinkes ke masyarakat kecil, gak ada duitnya, dan resiko diajak berantem pula. Gak kemakan lah.

Makanya di kita malem terpikir bisnis bakso, besok sudah bisa eksekusi jualan.

Jadinya, untuk ukuran bisnis mikro dan kecil, kecepatan eksekusi bisnis kita lebih unggul daripada negara maju yang bila izin gak lengkap bisa kena bredel dan pidana.

Usaha Mikro dan Kecil ini juga mendapat momentum berkat adanya Trend Online dan Social Media. Zaman IG gini, mau beli ataupun jualan dari rumah bisa.

Ghost kitchen menjamur, medsos berubah jadi gallery produk. Internet marketing jadi senjata andalan. Jasa kurir merambah sampai ke pelosok. Asal ada kemauan ada kesempatan untuk Bisnis.

Perubahan pola belanja dari Offline ke Online membuat ekonomi terdistribusi merata, tidak hanya di kuasai oleh segelintir pemodal besar yang sanggup jualan di ruko dan mall.

Pemain Mall itu 4L, Lu Lagi, Lu Lagi, di mall manapun ya dia – dia juga orang nya.

Berkat Sosmed, peta sebaran uang jadi berubah. Dulu, pendapatan 100 juta dikuasai 1 pebisnis, sekarang, 100 juta di bagi ke 10 pelaku bisnis, per orang kantongi 10 juta, ya bagus jadinya. Muter banget ekonomi.

Andai 1 orang keluarin hanya 5 juta perbulan, bila 100 juta di kuasai 1 orang ya jadinya hanya 5 juta yang beredar. Dikuasai 10 orang jadi ada 5 jt x 10 orang, ada 50 juta yang beredar di masyarakat.

Roda kehidupan sekarang sedang berputar. Giliran yang kaya dibuat pusing mikirin Omset untuk tutup biaya. Tiap hari deg – degan dikejar bank untuk bayar hutang.

Semua yang biasanya dirasakan kalangan bawah sekarang gantian kalangan atas yang rasakan. Salah sedikit jatuh miskin.

Coba cek temen kaya yang mendadak sekarang jadi suka open PO, sepertinya Survival Mode ON.

Jual Beli Sewa Properti ?
Pakai agen IN.Come Realty
Telephone : 0711-555 6677
Jenderal Sudirman, Km 3 Palembang